

Materi Agama Kristen Protestan Kelas X SMA Semester I

PELAJARAN 1
BERTUMBUH MENJADI DEWASA
Bertumbuh
menjadi dewasa dapat dilihat melalui enam aspek perkembangan yang ada pada
manusia, yaitu:
Ø Aspek Fisik dan Jasmani
Dewasa secara
fisik dan jasmani berarti sudah mengalami pertumbuhan tinggi dan berat badan
secara maksimal dengan gizi yang memadai, serta sudah mengalami masa pubertas.
Ø Aspek Intelektual atau Berpikir
Dewasa secara
intelektual atau berpikir berarti menggunakan akal budi untuk melakukan
penilaian tentag benar tidaknya sesuatu sehingga terjadi pertimbangan yang
matang dalam menghadapi masalah atau mengambil keputusan, tetapi juga memiliki
hikmat.
Ø Aspek Emosi
Dewasa secara
emosi berarti mampu mengendalikan perasaan dengan cara yang tepat dan ditujukan
pada orang yang tepat.
Ø Aspek Sosial
Dewasa secara
sosial berarti mampu menempatkan dirinya sedemikian rupa sehingga berhasil
menjalin komunikasi dua arah dengan orang lain.
Ø Aspek Moral
Dewasa secara
moral berarti sudah memiliki pedoman mengenai apa yang benar dan baik untuk
dilakukan.
Ø Aspek Spiritual
Dewasa secara
spiritual berarti memiliki hubungan yang terjalin dengan Allah yang Mahakuasa,
atau bagaimana penghayatan seseorang terhadap apa yang terbaik bagi Tuhan dan
apa yang dikehendaki-Nya.
CIRI – CIRI UMUM
DEWASA
|
TIDAK DEWASA
|
|
ASPEK FISIK
|
||
·
Menerima hal yang tidak bisa diubah dari ciri fisik
yang ada sejak lahir
|
·
Tidak puas dengan cirri fisik yang ada sejak lahir
|
|
·
Menempatkan seks pada proporsi yang wajar
|
·
Memiliki sikap tidak sehat terhadap seks
|
|
·
Memiliki keseimbangan antara bekerja dan istrahat
|
·
Terlalu banyak bekerja atau terlalu banyak bersantai
|
|
ASPEK SOSIAL
|
||
·
Dapat bergaul dengan teman sebaya maupun yang beda
usia.
|
·
Hanya bergaul dengan kelompok tertentu
|
|
·
Bertanggungjawab atas kesalahan sendiri
|
·
Menyalahkan orang lain atas kesalahan sendiri
|
|
·
Senang atas keberhasilan orang lain
|
·
Senang atas kegagalan orang lain
|
|
ASPEK EMOSI
|
||
·
Percaya pada diri sendiri
|
·
Kurang percaya diri
|
|
·
Bebas dari iri hati
|
·
Iri hati
|
|
·
Memiliki emosi yang wajar
|
·
Memiliki emosi yang tidak wajar
|
|
ASPEK INTELEKTUAL
|
||
·
Tekun
|
·
Menunda – nunda pekerjaan dengan alasan yang tidak
jelas
|
|
·
Melihat ke masa depan
|
·
Terpaku pada masa lampau
|
|
·
Menarik manfaat dari kesalahan/kegagalan
|
·
Tidak mau belajar dari kegagalan/kesalahan
|
|
ASPEK SPIRITUAL
|
||
·
Berbuat baik pada orang lain
|
·
Tidak berbuat baik pada orang lain
|
|
·
Takut akan Tuhan
|
·
Lebih takut kepada manusia atau hal – hal gaib
|
|
·
Bersyukur atas apa yang dimiliki
|
·
Tidak pernah puas akan apa yang telah dimiliki
|
|
PELAJARAN 2


TAKUT AKAN
TUHAN
Takut akan Tuhan meliputi berbagai aspek, yaitu:
v Allah Itu Kudus
Takut akan
Tuhan adalah kesadaran akan kekudusan, keadilan, dan kebenaran-Nya sebagai
pasangan terhadap kasih dan pengampunan-Nya. Untuk itu kita dituntut untuk
mengenali Dia dan memahami siapa Dia. Hal ini juga meliputi kesadaran bahwa
Dialah Allah yang tidak berkenan atas segala jenis perbuatan dosadan karena itu
Ia berkuasa untuk menghukum siapapun yang melanggar hokum Allah.
v Allah Layak Mendapat Hormat
Takut akan
Tuhan berarti memandang Dia dengan penuh kagum, menghormati kekudusan-Nya,
serta mengagungkan-Nya sebagai Allah yang memiliki kemuliaan dan kuasa di atas
segala –galanya.
v Allah Memiliki Kuasa
Takut akan
Tuhan menjadikan orang percaya menaruh iman dan kepercayaannya untuk beroleh
selamat hanya dari Dia.
v Allah Adalah Awal dari Segala Pengetahuan
Amsal 1 : 7
mengaitkan pengetahuan dengan sikap takut akan Allah. Pengetahuan disini adalah
pemahaman manusia dalam menyikapi hidupnya di tengah – tengah dunia ini.
Pemahaman itu hanya mungkin terjadi apabila manusia mau menundukkan diri di
hadapan Allah yang Maha Mengetahui.
Takut akan
Tuhan adalah sikap mau tunduk pada ketetapan dan kehendak Allah.
Dapat dikatakan
bahwa alasan – alasan untuk takut pada Tuhan bersumber pada pengertian di
atas yang dapat disingkatkan sebagai berikut :
a.
Kita harus takut akan Tuhan karena kuasa-Nya yang
besar selaku Pencipta segala sesuatu dan segala bangsa ( Mazmur 33 : 6-9 )
b.
Kuasa-Nya yang dahsyat itu terus menopang unsure
–unsur ciptaan, termasuk kita ( Keluaran 20 : 18-20; Markus 4 : 39-41 )
c.
Kita menyadari kekudusan-Nya ( Wahyu 15 : 4 )
d.
Kesadaran akan kemuliaan-Nya ( Matius 17 : 1-8 )
e.
Berkat – berkat yang terus kita terima dari Dia,
khususnya pengampunan
dosa
( Mazmur 130 : 4 )
PELAJARAN 3
KARAKTER
REMAJA KRISTEN
Masa remaja
adalah masa pembentukan identiras, pada masa inilah terjadi proses pencarian
dan pemantapan sifat serta kebiasaan yang akan menjadi ciri khas seseorang dan
dipertahankan sampai sisa hidupnya.
Karakter Setiap
Orang Berbeda
Tiap – tiap orang memiliki karakter yang tampak jelas dari pola piker yang
terlihat melalui pengambilan keputusan dan penyelesaiaan masalah, sifat serta
kebiasaannya, hubungannya dengan orang lain, dan perencanaan hidupnya untuk
masa depan.
Tidak ada orang
yang sudah memiliki karakter yang baik sejak lahir, walaupun mungkin hanya
sedikit, perubahan tetap diperlukan karena kuatnya peranan hal – hal yang
justru membuat karakter menjadi tidak baik dan jauh dari perkenan Allah.
Seperti dicatat di Roma 8 : 8 , “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin
berkenan kepada Allah”
Faktor – faktor
yang Berperan dalam Pembentukan Karakter
-
Pola asuh orangtua
-
Pengalaman masa lalu
-
Norma masyarakat
Kesimpulannya :
·
Tiap manusia memiliki karakter yang baik dan buruk
·
Karakter yang baik adalah pikiran, perkataan,
perbuatan, dan sikap kita yang dapat membangun dan mendatangkan kebaikan bagi
diri sendiri dan orang lain.
·
Karakter yang buruk adalah pikiran, perkataan,
perbuatan, dan sikap kita yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
·
Karakter yang buruk dapat dikurangiatau bahkan
dihilangkan, tergantung kepada diri kita, apakah mau berubah atau tidak.
·
Remaja Kristen dapat dikenal melalui karakter yang
mencerminkan dirinya sebagai anak Tuhan pada satu sisi mampu menghargai diri
sendiri dan dengan demikian orang lain pun menghargai dirinya. Pada sisi lain,
mampu menghargai orang lain dalam kekurangan dan kelebihannya.
·
Indikator manusia bertumbuh sebagai pribadi dewasa
adalah manusia yang mengalami proses pertumbuhan secara bertahap, yang mampu
menilai diri sendiri, menerima koreksi positif dari orang lain dan terbuka
untuk membarui dirinya dalam rangka membangun kehidupan pribadi dan sosial yang
positif dan konstruktif.
PELAJARAN 4


MEMBANGUN
JATI DIRI
Seperti yang
kita bahas di Bab I, kita perlu mengenali siapa kita. Pengenalan ini berguna
untuk membuat perencanaan menjadi manusiayang makin menyerupai Kristus dan
memiliki nilai – nilai kristiani. Kita tidak bisa mengubah diri kita menjadi
sesuatukalau kita belum mengenal keberadaan diri kita saat ini.
Dalam psikologi komunikasi, dikenal apa yang disebut dengan ‘Jendela Johari’
yang terdiri dari empat buah jendela, yaitu :
·
Daerah Terbuka
Untuk ruang
terbuka, yaitu motivasi, sikap dan sifat kita yang terbuka bagi orang lain
sehingga orang lain dapat melihat dengan jelas.
Dalam hal ini
kita bersikap sesuai dengan pikiran dan pandangan serta pengalaman kita. Kita
tidak harus menjadi sama dengan orang lain supaya menyenangkan atau disenangi
orang lain karena itu merupakan bentuk penyangkalan terhadap diri sendiri.
·
Daerah Rahasia
Rahasia dalam
diri kita yang mengandung banyak hal yang disimpan ataupun dirahasiakan untuk
diri kita sendiri. Ini juga merupakan hal yang kita simpan rapat –rapat agar
tidak diketahui oleh orang lain. Umumnya berisi impian, sifat buruk, tindakan
salah, keinginan, dorongan, pengalaman masa lalu yang menyakitkan, dan
sebagainya.
·
Daerah Buta
Orang lain
dapat membaca sikap dan sifat kita, tetapi kita sendiri tidak menyadarinya.
Daerah ini juga menjadi tempat bagi bahan gosip orang lan terhadap kita, mereka
dengan bebas mengungkapkan, bahkan menambah – nambahkan, sehingga kejelekan
kita semakin parah..
Maka kita
hendaknya meminta masukan dari orang lain tentang penilaian mereka terhadap
kita.
·
Daerah Tidak Dikenal
Daerah ini
tidak diketahui karena baik kita maupun orang lain tidak tahu bagaimana
sesungguhnya kita; hanya Tuhan yang tahu. Tempat ini juga yang membuat orang
penasaran. Hal ini mencakup, masa depan kita, kapan kita mendapat jodoh, kapan
kita meninggal, dan sebagainya.
Keempat daerah
ini sungguh membantu kita dalam pengenalan diri kita. Selalu ada hal – hal yang
bisa kita kembangkan, sifat yang diubah menjadi lebih baik, kemampuan yang
diasah sehingga menjadi berkat bagi orang lain, hal – hal negatif yang tidak
kita sadari berubah karena kita mau meminta masukan dari orang lain tentang hal
ini, dan hal – hal yang kita serahkan kepada Tuhan karena memang ada dalam
kewenangan-Nya.
PELAJARAN 5


BERPIKIR POSITIF
Berpikir
positif berarti menghadapi hidup dengan bersemangat, ada hal baru yang menanti,
dan tantangan yang harus dijawab. Itu juga berarti optimis, menikmati hidup,
dan melihatnya sebagai kesempatan yang tidak boleh disia – siakan.
Sedangkan golongan yang berpikir negatif bersikap pesimis, selalu ada
kekurangan dan cacat cela dari segala sesuatu, mereka lebih cepat menyerah
bahkan sering sebelum usaha dilakukan. Manusia yang berpikir positif akan
dengan lapang dada atau ikhlas menerima berbagai kritik yang positif maupun
negatif dan kritik itu dipakai untuk memperbaharui diri.
Berikut ini ada
sejumlah karakteristik orang dengan konsep diri positif menurut D.E.
Hamachek, antara lain :
Ø Memiliki keyakinan terhadap pendapat dan sikapnya
serta bersedia mempertahankannya, tetapi juga terbuka untuk mengubahnya jika
ternyata hal itu keliru.
Ø Mampu bertindak benar.
Ø Memiliki keyakinan dan kemampuan untuk mengatasi
masalah walaupun kenyataan nya bisa saja tidak berhasil setelah dicoba.
Ø Merasa setara dengan orang lain meski berbeda
kemampuan; tiidak membanggakan diri atau menganggap diri rendah.
Ø Sanggup menerima dirinyadan merasa berguna bagi orang
lain, paling tidak bagi sahabat dan orang – orang yang dekat dengannya.
Ø Menerima pujian secara wajar, tidak berlebihan ataupun
terlampau membanggakan apa yang sudah diraih.
Ø Cenderung menolak usaha orang lain untuk mengotrol
atau mendominasi dirinya.
Ø Sanggup mengakui kepada orang lain tentang berbagai
perasaan yang ada dalam dirinya yang menyangkut hal – hal positif maupun
negatif. Tidak malu mengakui adanya hal-hal yang kurang pada dirinya.
Ø Menikmati hidupnya.
Ø Peka terhadap kebutuhan orang lain.
Sebaliknya,
mereka yang memiliki konsep diri negatif memiliki karakteristik sebagai berikut,
menurut William D.Brooks dan Philip Emert :
Ø Peka terhadap kritik
Ø Renponsif terhadap pujian (berlebihan menanggapi
pujian)
Ø Hiperhritis, mengkritik orang lain, tetapi tidak mau
dikritik.
Ø Pesimis dan cenderung menghindari kompetisi sehat
PELAJARAN 6


BERPIKIR
KREATIF DAN KRITIS
Berpikir
kreatif adalah berpikir dengan tidak memmbatasi diri pada hal-hal yang biasa
dan rutin, tetapi mencari terobosan baru atau ide-ide baru agar terjadi
perubahan atau peningkatan. Kemampuan ini dapat diasah, dibiasakan dan
dikembangkan pada semua orang.
Hambatan-hambatan
seseorang untuk menjadi kreatif, dikarenakan factor berikut :
·
Kebiasaan , kebiasaan dalam melaksanakan pekerjaan
yang sama dengan cara yang sama
·
Waktu, kesibukan sering sekali dijadikan alasan untuk
tidak menjadi kreatif
·
Dibanjiri masalah, jika kita berada di rumah dan mau
ke sekolah kita menghadapi satu masalah
·
Tidak ada masalah, kita adalah makhluk pemecah masalah
yang terus-menerus menghadapi dan memecahkan sejumlah masalahnya.
·
Takut gagal
·
Kebutuhan akan sebuah jawaban sekarang
·
Kurang memperluas wawasan
·
Takut bersenang-senang
·
Dibutuhkan ide-ide dan gagasan yang fleksibel

PELAJARAN 7
MENGHADAPI TANTANGAN
Dalam buku
yangberjudul Adversity Quotient ,manusia dibedakan menjadi tiga tipe
takni :
-
Tipe manusia quitter atau orang-orang
yang berhenti/menyerah, manusia ini adalah tipe manusia yang cepat menyerah
dalam menghadapi segala tantangan.
-
Tipe manusia camper atau manusia yang berkemah,
tipe ini adalah manusia yang berjuang setengah-setengah, masih separuh jalan.
-
Tipe manusia pendaki atau climber, manusia yang
tidak pernah menyerah dalam berjuang mencapai sukses demi sukses.
Sebelum
mengatasi tantangan, kita harus tahu seperti apa tantangan yang kita hadapi
itu.
Sebagai remaja
ada beberapa bentuk tantangan yang ditemui, antara lain:
-
Menyelesaikan proses belajar dan kewajiban sebagai
pelajar dengan kritis dan bertanggungjawab;
-
Mampu bersosialisasi dengan baik;
-
Mampu mengaktualisasikan diri dalam pergaulandan dalam
keluarga;
-
Memenuhi target hidup dalam bentuk mewujudkan rencana
hidup;
-
Menghilangkan berbagai keraguan, ketakutan, prasangka,
iri hati, dendam.
Untuk
menghadapi tantangan tersebut, maka di Efesus 6 : 10-20 kita diberi tahu
perlengkapan senjata rohani, yakni:
-
Ikat pinggang kebenaran;
-
Baju zirah keadilan;
-
Kasut kerelaan untuk memberitakan injil damai
sejahtera;
-
Perisai iman;
-
Ketopong keselamatan;
-
Pedang roh berupa firman Allah;
-
Doa tiap waktu di dalam roh;
-
Permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang
kudus.

PELAJARAN 8
DASAR
KELUARGA KRISTEN
Keluarga
dianggap sebagai unit terkecil dari masyarkat. Fungsi keluarga antara lain :
-
Reproduksi : wadah resmi untuk lahirnya anak
-
Pengaturan seksual : suami istri memiliki hak dan
kewajiban dalam berhubungan seks
-
Sosialisai : mengajar anak tenang norma yang berlaku
di masyarakat
-
Afeksi : saling mengasihi
-
Status : status sebagai ayah dan ibu menunjukkan tugas
dan tanggungjawab mereka.
-
Perlindungan : anak yang lahir mendapat perlindungan
dari orang tua sampai ia cukup dewasa
-
Ekonomi : suami bertanggung jawab untuk menafkahi
keluarganya.
Dalam kitab
Kejadian 2 : 18, dikatakan bahwa fungsi keluarga sebagai penolong yang sepadan.
Itu berarti :
-
Bentuk keseimbangan antara laki-laki dan perempuan
sebagai pasangan suami istri.
-
Masing-masing merendahkan hati untuk menerima
kekurangan maupun kelebihan pasangannya.
-
Relasi yang sehat dan saling membangun antara suami
istri, melalui komunikasi dua arah, saling terbuka dan jujur.
Makna dari
“menjadi satu daging”. Hal ini mencakup :
-
Setiap pihak menjadi serupa satu dengan yang lain
dalam arti menduplikasi yang lainnya.
-
Tidak ada perbedaan antara pihak yang satu dengan
pihak yang lain.
-
Terjadi sebuah keluarga baru yang monogamis.
-
Menjadikan dua pribadi menjadi sehati.
Dalam 1
Korintus 11:3 ; Kolose 83:18-21 ; Efesus 5:22-6:4, Rasul Paulus menegaskan apa
artinya menjadikan Kristus sebagai kepala, yaitu menjadikan seluruh ajaran
Yesus sebagai acuan hidup berkeluarga. Beberapa hal pokok yang dapat menjadi
fondasi kuat dalam hidup berkeluarga :
-
Memprioritaskan Kristus dalam hidup mereka.
-
Sikap saling mengasihi dan saling menghormati di
antara anggota keluarga.
-
Cinta kasih yang tanpa batas.
-
Sikap empati dan sikap simpati antar-sesam anggota
keluarga
apa apa saja ciri ciri gereja
BalasHapusapa apa saja ciri ciri gereja
BalasHapus